Laman

Barang siapa menanam, maka dia akan menuai

Mimin Manis



Ringin, remaja kribo yang lahir di keluarga kurang mampu. Dia hidup bersama ibunya yang tua, yang kadang terbatuk-batuk terlanjur dimakan usia. Mereka hidup bersahaja. Ringin bersama teman-temannya bekerja sebagai buruh serabutan. Kerja sana-sini, tidak menentu. Bila ada pekerjaan, dipanggil. Bila tidak, pekerjaannya berkumpul di warung kecil pinggir jalan.
Seperti remaja pada umumnya, Ringin memiliki cita-cita. Ingin hidup mewah, makan enak, ada yang menyampokan rambutnya setiap hari dan tidur di kasur yang empuk. Selama ini kasurnya terbuat dari anyaman bambu sehingga setiap bangun tidur, ada tato yang menempel di kulitnya.
Seluruh penduduk tahu, raja di kerajaan ini hanya ada satu. Orangnya tegap, berbadan besar dan rupawan. Sementara Ringin berbadan kecil, kurus, kering dan banyak jerawatnya pula. Sejak kecil Ringin diajarkan untuk sabar dan tekun. Berprinsip seperti kupu-kupu yang hidupnya dimulai dari ulat hina hingga bermetamorfosa menjadi Cinderella. Ibunya menasihati agar menjadi orang yang jujur. Kelak kejujuran akan membuahkan hasil yang manis. Tapi kapan Ringin bisa menjadi raja?
Di sudut lain, seorang raja gusar dengan permasalahannya. Dia sudah terlalu tua untuk memimpin dan tidak memiliki keturunan. Sang raja hendak mewariskan tahta kerajaannya kepada seseorang yang dapat ia percaya. Lalu sang raja mengadakan sayembara.
Para prajurit menempel kertas kuning bertuliskan, “Dicari seorang pemimpin masa depan. Syarat berbadan sehat, usia minimal 17 tahun, tidak terlibat sengketa kerajaan, berprilaku baik dan lulus tes.” Tidak ada syarat harus berambut lurus. Ringin bahagia bisa ikut sayembara.
Ringin dan teman-temannya tidak yakin dengan apa yang mereka baca. Ada kesempatan menjadi seorang raja yang sudah lama dia idam-idamkan! Dia menampar-nampar wajahnya untuk meyakinkan ini bukan mimpi. Ketika tamparan itu terasa sakit, dia tahu kalau hari itu, tulisan dikertas itu nyata. Tapi dia masih belum yakin. Dia tampar pipi temannya untuk memastikan temannya itu asli. Dan ternyata mereka semua asli. Bukan buatan Cina.
Ringin bersegera memenuhi panggilan raja. Siang hari siapa pun yang memenuhi syarat berhak mengikuti tes. Lebih dari seribu orang memenuhi stadium utama. Orang mana yang tidak mau jadi raja. Hidupnya leha-leha dan punya penghasilan besar. Tidak sepertinya. Bekerja keras, namun penghasilan pas-pasan.
Raja mengumumkan, hanya ada satu tes sederhana, yaitu setiap orang harus merasakan jerih payah menjadi petani.
Raja membuka kontesnya dengan memberi instruksi bagaimana kompetisi ini harus berjalan. “Barang siapa yang hendak menjadi raja, dan ia berniat menjadi raja yang baik, dia harus dekat kepada rakyatnya.” Tangan kanannya memegang kantung hitam. “Wahai rakyatku, di tanganku terdapat biji. Ini adalah tiket kalian menjadi raja. Masing-masing dari kalian akan diberikan satu kantung penuh untuk ditanam. Setelah satu tahun, aku ingin melihat siapa yang bisa menjaga amanah raja. Bawa kembali! Barang siapa yang bisa menanam pohon paling besar, dia yang akan menang!” Suara terompet bergema. Sayembara dimulai. Orang-orang mengantri, panjang berkilo-kilo untuk mengambil sekantung benih.
Keesokan harinya Ringin menanam dalam pot kesayangannya. Benih itu disiram, diberi pupuk dan dijemur. Dia menaruh harapan pada benih yang ditanamnya itu.
Hari berganti. Satu minggu berlalu. Sahabat Ringin datang mengunjungi rumahnya. Dia bercerita tentang si Harun, temannya yang lain, yang tanamannya sudah berkuncup. Tunas kecil sudah tumbuh dari potnya. Temannya yang lain, Tupul, sudah mengeluarkan akar dari dalam potnya. Pot Ringin juga sama. Ada tunas kecil sekali. Mungil, berdaun tunggal dan hijau. Ringin gembira.
Kurang lebih satu bulan Ringin merawat tanamannya, tapi kok aneh. Benih yang Ringin tanam nampak seperti rumput liar yang mana rumput liar tidak tumbuh melalui biji. Dia gali tanahnya dan ternyata dugaannya tepat. Benihnya masih terkubur di sana. Yang tumbuh bukanlah benih tadi, melainkan hanya rumput biasa. Ringin kecewa.
Bulan pertama dia rasa gagal. Dia ditertawakan teman-temannya ketika bercerita kalau tanaman yang tumbuh ternyata hanya sebuah rumput liar. Akhirnya dia harus menanam dari awal lagi. Dia mulai dengan membaca doa seperti Baim dalam lagu Catatanku.
Setiap hari dia siram, jemur. Menjelang sore, dia masukan ke dalam rumah. Dia jaga dari hewan perusak tanaman dan hama. Tidak boleh sejengkal pun ayam tetangga masuk ke pelataran rumah. Begitu ayam menyentuh pagar Ringin, dia langsung menjalak.
Dia berikan pupuk agar pertumbuhannya optimal. Begitu dengar dari teman-temannya bahwa  musik membantu tumbuh kembang tanaman, dia beli MP3 bajakan dan dia setel lagu dangdut kesukaannya. Ajaib tanamannya tumbuh, tumbuh di dalam khayalnya seolah pohon lebat tumbuh. Tapi Ringin tidak patah semangat, dia masih menggali kemungkinan agar dapat menumbuhkan tanaman sesungguhnya.
Enam bulan berlalu cepat. Ibunya sakit keras, batuknya berdarah. Ringin panik. Dia tidak tahu harus kemana. Melihat Ringin panik, ibunya meminta untuk mendekatkan telinga ke mulutnya. Dia mengelus kepala seolah Ringin masih seperti Ringin yang dulu kecil. Ibu memeluk Ringin dan membisikan kata-kata terakhirnya. “Ringin, ibu sudah berusaha sebisa ibu untuk membesarkanmu dengan baik. Lihat potmu, masih kosongkan?” Ibu itu meledek.
“Pot ibu sudah tumbuh besar dengan daun yang rindang, pot ibu adalah kamu Ringin.” Ringin merinding. Dia tahu ini akan menjadi wasiat terakhirnya. “Dengar Ringin, apa pun yang terjadi, ibu bangga mempunyai anak sepertimu. Kau pintar. Rajin. Soleh. Berbakti kepada orang tua dan jujur. Hanya itu yang bisa ibu wariskan. Semoga kau bisa mewariskan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para nabi kepada anak cucumu. Ibu bangga kepadamu. Ibu bangga.”
Ibu menutup mata selamanya. Ringin menangis tersedu sedan.
Selama seminggu potnya tidak dia perhatikan. Dia mencoba meratapi nasib duduk di pelataran rumah. Tenggelam dalam kesedihan setelah ditinggal oleh orang yang paling dicintainya. Pada akhirnya dia putuskan untuk memulai semuanya dari awal. Dia buang semua tanah dalam pot. Dia ganti yang baru. Komposisinya dia ganti. 80% tanah, 20% pupuk. Pagi dia jemur, siang dia bawa masuk. Seminggu sekali diberi susu, sebulan sekali diberi madu. Semua dia lakukan agar tanaman apa saja yang terkandung dalam benih bisa tumbuh. Itu harapannya. Dia berharap semoga dia bisa menjadi kebanggaan ibunya.
Singkat cerita, waktu berlalu. Satu tidak terasa begitu cepat. Teman-temannya dengan bangga memamerkan hasil budi daya mereka. Ada yang berbentuk seperti bonsai. Kecil, kontet dan imut-imut. Ada pula yang besar berbuah lebat. Strawberry, nanas, melon, pepaya dan lain-lain. Ada yang menghasilkan bunga yang cantik. Harum berwarna-warni.
Raja berkeliling. Di lapangan hijau raja memantau langsung siapa yang berhak menjadi penerus tahta. Raja mangguk-mangguk melihat tanaman yang dibawa banyak orang. Beliau cukup berkesan melihat pohon kecil yang langka. Wave of love, gelombang cinta. Tidak dia sangka dia bisa melihat tanaman itu di sini. Raja sungguh senang.
Satu per satu tanaman dia nilai. Raja berkeliling bersama 3 orang lain yang merupakan ahli tanaman. Bentuknya, warnanya, ukurannya, buahnya, daunnya, batangnya, semua jadi topik pembicaraan.
Lapangan itu benar-benar terjemur terik matahari.
“Coba lihat, buah melon! Aku suka sekali melon,” kata raja. “Hey lihat, apel malang! Buah yang selalu kumakan sewaktu kecil. Boleh kuminta?” “Hei hei hei, coba lihat! Apakah itu jambu batu? Alangkah besar sekali. Aku tidak mengira salah satu biji yang kuberikan adalah jambu batu!”Raja tampak senang dengan pohon berbuah. Raja tersenyum melihat rimbunnya tanaman hijau hingga ia melihat pot Ringin yang kosong.
“Anak muda, apa yang kau bawa?”
“Pot tuan.”
“Mana tanamanmu?”
“Saya tuan,” memungkiri tanamannya yang kosong.
“Hah, dengan pot kosong kau kira kau bisa menjadi raja?”
“Aku sudah mencobanya baginda namun benihnya tidak tumbuh.”
Raja itu tertawa. Seluruh masyarakat yang ikut dalam sayembara pun menertawakan Ringin. Semuanya, tidak terkecuali sahabat baiknya.
Melihat Ringin yang berwajah serius raja itu berhenti tertawa.
“Anak muda, kamu tahu kenapa aku tertawa?”
“Karena saya bodoh?”
“Hah, bukan. Bukan itu.”
Ringin keheranan.
“Aku tertawa karena aku sudah menemukan siapa penggantiku. Siapa orang yang cocok menggantikan tahtaku duduk di kursi empuk. Kau anak muda.”
Seluruh hadirin berkata ‘O’. Mereka bergunjing satu sama lain.
Raja berbalik arah, dia mengangkat tinggi kedua tangannya dan berkata, “Wahai pendudukku, sejak saat ini aku sudah bukan raja kalian lagi. Anak ini...” raja menoleh kepada Ringin, “Siapa namamu?”
“Ringin baginda.”
“Baik. Anak ini, Dingin! Dia akan menggantikanku menjadi raja!” raja mengangkat tangannya. Dia salah menyebutkan nama.
“Tapi baginda, saya rasa, saya belum layak menjadi seorang raja.”
Raja berkata, “Nak, Ringan,” salah menyebut lagi. “Kamu adalah tanaman terhebat yang pernah tumbuh di negeri ini. Kamu pantas mendapatkannya,” tangan raja menepuk-nepuk pundaknya.
“Tapi baginda, bagaimana bisa? Tanaman kami lebih bagus darinya. Kenapa baginda memilihnya?” salah seorang peserta keluar dari tengah kerumunan dan protes. Dia sudah menghabiskan jutaan dolar untuk tanamannya.
Raja itu kemudian tertawa keras. Dia terbahak-bahak mendengar kalimatnya. Raja berkata, “Lebih bagus katamu? Yang benar saja? Benih yang kuberikan sudah kurebus. Tidak mungkin akan pernah tumbuh. Sedangkan anak ini, Rimin, memiliki hati yang meneduhkan negeri ini.” Ringin maklum karena raja sudah tua.
Itu lah hari ketika Ringin belajar kalau kejujuran meneduhkan hati. Ringin belajar, kejujuran, walau awalnya pahit, tapi akhirnya akan berbuah manis. Orang jujur selalu untung, cepat atau lambat, kejujuran akan membawa pada kedamaian. Ringin belajar kalau kejujuran berbuah manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you :)