Laman

Barang siapa menanam, maka dia akan menuai

Elit Tertinggi vs Peloper Koran

Hari ini cerah bisa dipakai untuk berkampanye. Lawan? Tak sebanding, tapi rakyatlah yang menentukannya.
Tiloang Siregar sudah lama menginginkan pekerjaan yang mengharuskan hidupnya untuk bermasyarakat. Pengalaman pahitnya dulu jadikan pacuan dapati kedudukannya yang memberi perubahan bagi rakyat. Semangat dan rasa juang yang sungguh berkobar dan benar-benar menjanjikan. Seruan, ajakan, serta tawaran dia gembar-gemborkan pada kaum kecil yang hidup menderita terkikis di kejamnya jaman.
Namun, suatu ketika Tiloang tersulit kabar, dengan seseorang yang bernama Ruah Tipulang kepala utama penggerak organisasi anti Tiloang.
Menentang dan menolak keberadaannya mencalonkan diri sebagai Anggota DPR.
Asal-usul yang menyulut simiskin pun dipertanyakan. Berita itu tersebar dengan cepat dan semakin meluas. Simiskin pun semakin ganyang mengumpulkan gerakan untuk tidak memilih Tiloang Siregar. Tiloang pun geram lalu mencari tahu keberadaan simiskin dan datang menemuinya.

Tiloang terlihat kebingungan mendapati alamat Ruah Tipulang. Dia bertanya dari satu warga ke warga lainnya, tapi tidak ada yang mengenali orang yang sedang dicarinya itu, Tiloang berpikir ini semua pasti hanya sandiwara dan itu cara yang dapat mereka lakukan. Ya! menyembunyikan identitas kepala utama pendiri organisasi yang menentangnya haruslah selalu dirahasiakan.
Sudah hampir mendekati rumah Ruah, tetapi dia masih saja bertanya walaupun tak ada jawaban yang membuatnya puas, maklum ini juga kali pertama dirinya bertandang dirumah-rumah kumuh.

"Permisi.. apa anda kenal dengan orang yang bernama Ruah Tipulang?" tanya Tiloang pada seseorang berlagat aneh menurutnya.

"Saya tidak tahu!" ketus wanita berlagat aneh itu dengan tergesah-gesah dan langsung menutup-nutupi wajahnya dengan topi.

"Masa anda tidak tahu? Anda orang sini kan?" tanya Tiloang yang sedari tadi merasa ada yang tidak beres dengan lawan bicaranya itu.

"Saya memang orang sini! Tapi saya tidak mengenal siapa Ruah" jawab wanita itu sambil menghempaskan tangannya dari pegangan Tiloang.

"Ya sudah terimakasih" balas Tiloang yang langsung memasang kacamata hitamnya lagi dan pergi tanpa berpamitan.

"Dasar bodoh!" jawab wanita itu sambil membuang tatapanya pada Tiloang yang beranjak menjauh dari pandangannya, lalu menenggerkan senyuman sinis dibibirnya kemudian mengangkat topinya sedikit dan menutupnya kembali.

Tiloang tidak patah arah dia terus bertanya dan mencari rumah Ruah. Sampai akhirnya dia temukan juga rumah Ruah dan ia menunggunya di teras depan rumah. Satu jam, dua jam, enam jam sampai larut malam, barulah kemudian Ruah datang.

Ruah terhenyak ketika melihat Tiloang berada didepan rumahnya.

"Sedang apa didepan rumah ku?" tanya Ruah terkejut yang lalu menjatuhkan barang bawaannya.

"Ambil saja dulu barang mu jatuh!" seru Tiloang sambil masih asyik dengan handphonenya.

"Apa mau mu? Tiloang Siregar?" Tanya Ruah dengan mimik tak suka.

"Ya.. ¤.¤ oh apa kau Ruah Tipulang?" sambil melepas kacamatanya dan berdiri menghampiri Ruah...

"Ya ampun ternyata kau! Hah, sudah dua kali kita bertemu, tadi kau bilang tak kenal siapa Ruah. Tapi, mengapa sekarang kau jadi Ruah nya? Haha haha ini lucu.lucu sekali" katanya lagi. Tiloang tertawa dengan kencangnya lalu tiba-tiba terdiam dengan tatapan menyeramkan tersudut pada Ruah. Ruah yang juga seolah menentangnya dengan senyuman sinis tergurat diemosinya yang menyala-nyala.

"Tudup point saja untuk apa kedatangan mu kemari?"
sambar Ruah tidak sabaran.

"Hahaha ternyata kau orang yang tak bisa diajak bercanda, tidak usah marah!" serobot Tiloang sambil memutar-mutari Ruah.

Ruah benar-benar sangat kesal, lalu dia mendorong tubuh Tiloang hingga terjatuh. Kemudian Tiloang marah dan malah balik menarik Ruah yang di paksanya duduk di kursi.

"Akh! Sudah aku serius! berapa banyak uang yang harus kuberi? Tulis saja berapa yang kau inginkan?" tanya Tiloang mengakhiri basa-basi diantara mereka berdua. Tiloang berfikir dengan memberikan cek itu pada Ruah, dia mungkin akan berhenti melakukan intimidasi terhadapnya dan dengan begitu pula ia bisa tawarkan penawaran, yang menguntungkan dirinya. Yang lebih dulu mencegah kubu lain mengalahkannya. khawatir ada yang menghasut Ruah, untuk bermain intrik politik dengannya. Namun sayang pemikiran Tiloang terhadap Ruah salah besar.
Ruah malah menganggap semua ini adalah penghinaan buruk bagi rakyat kecil sepertinya.

"apa maksud mu? Kau pikir orang seperti kami mudah menerima tawaran yang merendahkan harga diri?!" bentak Ruah merobek cek kosong itu yang lantas dilemparnya kearah muka Tiloang. Tiloang merasa bingung dan tidak mengerti apa maksud perkataan Ruah.

"siapa? Katakan siapa yang menyuruh mu melakukan ini? Berapa banyak yang mereka tawarkan sampai kau berani kurang ajar pada ku" teriak Tiloang menghentikan langkah Ruah yang hendak masuk kedalam rumah.

Wajahnya menoleh dan berkata kalau Tiloang sangat bodoh. setelah melihat tingkahnya yang tidak mencerminkan sama sekali seperti Anggota Dewan. Ruah masuk kedalam rumah lantas menguncinya rapat-rapat.

"Ku mohon tolong jawab pertanyaan ku! Lalu mengapa kau mendirikan sebuah organisasi terselubung dan membuat gerakan untuk tidak memilihku?"
tanya Tiloang dari luar rumah Ruah yang terus memohon agar Ruah mendengar dan menjawab pertanyaan yang diucapkankannya berulang kali.

Lampu rumah Ruah pun dimatikan. Ini seperti jawaban dari si pemilik rumah agar Tiloang lekas pergi karena Ruah ingin beristirahat. Tidak disengaja Ruah melihatnya dari jendela. Tiloang yang hendak pergi dengan tangan kosong, mimik wajah yang tak karuan tergores pada penantiannya yang tiada hasil, negosiasinya bersama Ruah pun gagal total. Lengkaplah sudah, penderita Tiloang dimalam itu. Ruah merasa kasihan lalu dia berteriak.

"hey kau orang yang bernama Tiloang Siregar. Apa kau tidak sadar sudah menyelipkan nama kami Rakyat Kecil, berapa kali kami harus meminjamkan kata-kata itu kepada orang yang menginginkan kedudukan!" lantangnya dari balik jendela kamar, sambil melihat ekspresi Tiloang yang terkejut mendengar perkataan Ruah. Tiloang seperti dibungkam untuk tidak dapat menjawabnya, karena keteteran mendengar perkataan Ruah, dia malah berkilah bahwa Ruah bisa dituntut jika berkata seperti itu. Karena tidak terima Ruah pun keluar rumah dan berdiri dengan gaya selengeannya sebagai peloper koran sejati.

"Harusnya kau yang hati-hati jika berkata bila pada akhirnya semua janjimu itu! hanyalah pepesan kosong!" cetus Ruah tak terima sambil melayangkan jempol yang menepis hidungnya. (gaya pereman pasar).
Perasaan Tiloang kini seperti dihampiri puluhan penagih yang siap menghabisi nyawanya kapan pun, kalau dirinya tidak dapat melunasi hutang beserta bunganya.

"Bagaimana jika aku bisa menepatinya?" tanya Tiloang pada Ruah yang terlihat biasa saja menanggapinya.

"Kau yakin?" tanya Ruah menantang.

"Ya pasti!" Tiloang memantapkan jawabannya.

Setelah mendengar Tiloang berkata seperti itu, Ruah langsung masuk kedalam rumah dengan rasa bimbang dia mengambil keputusan untuk memilih Tiloang atau tidak.

"Jadi bagaimana! Apa nanti kau dan teman-teman mu akan mendukung ku?" teriak Tiloang yang sedang gelisah minanti jawaban yang akan diberikan Ruah.

"Yah. Akan ku pertimbangankan lagi! Sudah sana pulang! Ini sudah malam. Aku ingin tidur" jelasnya dari dalam kamar.
Padahal Ruah belum bilang kalau dia mendukungnya, tapi Tiloang.. tetap, Tiloang.. dia sudah terlanjur senang, dia mengoceh sepanjang malam, yang tentunya Ruah pun tak memperdulikannya. Ruah tertidur pulas. Namun, beberapa menit kemudian dirinya terkejut begitu mendengar Tiloang berteriak.

"Ruah! Aku berjanji jika aku tidak berhasil dalam tiga tahun aku akan mengundurkan diri dari DPR!" teriak Tiloang senang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah dari sang ayah.

Di sisi lain Ruah malah termenung dalam diam. Dan dari situ dia malah berpikir untuk benar-benar mendukung Tiloang Siregar dan mengampanyekanya bersama satu gerakan mendukung Tiloang.

Satu bulan telah berlalu pengumutan suara pun dilakukan di berbagai pelosok Kota Medan. Akhirnya Tiloang Siregar pun berhasil untuk menjadi salah satu anggota DPR. semua itu berkat kerja keras Ruah bersama gerakan organisasinya, dengan begitu telah menyumbangkannya lima persen suara rakyat kecil.
Mereka minanti harapan besar padanya yang akan memenuhi semua janji yang dibuatnya sendiri untuk rakyat kecil.

***

Kini kepemerintahannya menjadi salah satu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang malah semakin terpuruk. Kepercayaan, janji-janji para elit tertinggi pun perlahan pudar di mata rakyat. Satu tahun.. Dua tahun.. Sampai Tiga tahun berlalu begitu saja tanpa menorehkan sedikit pun, kedepan menuju perubahan bagi rakyat kecil. Malah sebaliknya keadaan tak kondusif, korupsi merajalela banyak bermunculan menggerogoti kursi DPR. Sesuai perjanjian yang telah dibuatnya sendiri. Tiloang Siregar mengundurkan diri dari Anggota DPR atas nama Rakyat.

Tiloang Siregar menemui Ruah, dengan semua janji dan harapan punah dipikulnya.
Dia memanggil-manggil nama Ruah dengan pakaian amburadul setengah sadar dari mabuknya. Ruah keluar setelah mengambil topinya. Kemudian berjalan kearah Tiloang dengan membawa tumpukan koran, karena memang dipagi itu Ruah sudah harus menjajakan koran-korannya.

"Untuk apa kemari? Sudah ku bilang hati-hati jika berjanji. Tidak semudah membalikkan telapak tangankan!" tegas Ruah pada Tiloang yang berlinang air mata kecewa.
Hanya kata maaf yang bisa Tiloang ucapkan. Tetapi Ruah enggan memaafkannya, karena bukan kepadanyalah seharusnya Tiloang meminta maaf. Seharusnya kepada Rakyat kecil yang sedang menanti harapan dari janji yang dibuatnya sendiri.

Karena kasihan Ruah menawarinya minuman, lalu mulai bercerita kalau dirinya
dulu juga pernah merasakan apa yang sekarang Tiloang rasakan. Tiloang kaget kemudian tersedak.

"Jadi kau mantan Anggota DPR?" tanya Tiloang dengan ekspresi serius. Ruah mengiyakannya. Ruah bilang tak selamanya yang ingin berbuat baik akan direstui oleh semua orang. Tetapi yang berbuat buruk selalu ada jalan pintas untuk bersembunyi.

Perkataan Ruah tadi pantaslah tersentuh oleh hati Tiloang yang sedih. Tiloang minta bertukar posisi. Dirinya menjadi Peloper koran dan Ruah menjadi Anggota DPR lagi. Ruah sudah pasti langsung menolaknya mentah-mentah. Ruah tidak ingin ke tempat itu lagi, dia sudah meninggalkan harta dan kekuasaannya. Dan lebih memilih hidup seperti ini, berbaur bersama rakyatnya. Karena tidak mau akhirnya Tiloang juga ingin ikut seperti Ruah menjadi seorang peloper koran, dan memulai hidupnya bersama-sama rakyat kecil.

Mereka berdua pun hidup menjadi sahabat karib. Nasibnya, sudah seperti digariskan.
Media cetak, elektronik riuh menceritakan dua Elit Tertinggi yang dikabarkan menjadi Seorang Peloper koran.

By: Ardida PB
http://apbmedalofvalor.blogspot.com/2012/02/elit-tertinggi-as-peloper-koran.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you :)